Minggu, 11 Januari 2015

Aku Ingin Ini, Ingin Itu. Tapi, Kok...


Cita - cita yang selalu menemani ketika saya bangun dan akan tidur.
Pernah punya mimpi atau cita – cita, kan? Semua orang normal pasti punya. Gambar di atas adalah sekian dari sekian banyak mimpi saya ketika saya di bangku kelas dua belas. Ketika itu saya menargetkan nilai rapor semester 5  seperti gambar di atas. Harapannya, jika berhasil mendapatkan angka  - angka tersebut saya bisa lolos SNMPTN jalur undangan dan meneruskan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Akan tetapi, tidak selalu semua mimpi dapat tercapai. Begitu pula dengan target milik saya ini. Matematika gagal. Fisika gagal. Kimia gagal. Bahasa Inggris gagal.

Lantas, apakah kegagalan itu membuat saya patah semangat? Nyaris. Saya sempat ketakutan,
frustasi, dan kebingungan. Takut tidak diterima, takut gagal. Namun, bagi saya sekarang itu adalah normal. Jadi, untuk kalian yang sedang dalam situasi seperti itu, nikmatilah saja dulu. Semua akan indah pada waktunya, entah kalian berhasil, ataupun gagal saat ini.

Kegagalan bertubi – tubi menghampiri saya ketika itu. Nilai – nilai try out jeblok, dan akhirnya nilai UN juga jeblok menjijikkan. Saya ingat ketika itu ibu saya mengirimi sebuah pesan yang isinya : “Apapun hasilnya, kamu tetap yang terbaik,” yang langsung membuat saya menangis sejadi – jadinya. Saya sangat kecewa dengan hasil UN dan sedih tidak bisa membuat kedua orangtua saya bangga.

Seminggu setelah pengumuman UN saya kembali dibuat resah dengan pengumuman online SNMPTN. Rasa takut kembali hinggap kapan pun, di mana pun. Saya juga trauma karena saya pernah mendaftar Sekolah Vokasi di Universitas Gadjah Mada dan hasil pengumumannya menggunakan sistem online. Waktu itu saya dinyatakan tidak lolos seleksi tersebut. Oleh karena itu, saya sempat berpikir untuk tidak melihat hasil seleksi SNMPTN di internet. “Lebih baik menunggu besok, lihat di koran,” pikir saya saat itu. Akan tetapi, rupanya ibu saya terus memaksa saya untuk melihat hasilnya waktu itu juga. “Tahu lebih cepat, lebih baik,” katanya. Kedaan itu membuat saya sangat tidak nyaman. Saya ketakutan, jantung saya melompat – lompat. Ibu saya berada di samping saya. Ketika melihat hasilnya, saya sempat tidak percaya, takut kecewa kalau hasilnya salah. Akan tetapi lama – kelamaan saya percaya juga. Alhamdulillah, saya diterima di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada.

Sejak saat itu saya menjadi percaya bahwa mimpi yang dibubuhi dengan usaha dan doa suatu saat akan berubah menjadi kenyataan. Kalaupun tidak, tidak akan jadi masalah. Meskipun awalnya kesedihan dan kekecewaan akan mengiringi setiap kegagalan. Namun, saya percaya Tuhan selalu punya skenario yang super indah untuk setiap manusia. Untuk itu, dekatkanlah dirimu dengan Tuhan!